Puasa Ramadan 2026 Diperkirakan Lebih Pendek, Ini Penjelasan Lengkapnya

Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:48:17 WIB
Puasa Ramadan 2026 Diperkirakan Lebih Pendek, Ini Penjelasan Lengkapnya

JAKARTA - Lebih dari satu miliar umat Muslim di berbagai negara di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa Ramadan 2026 dengan durasi waktu berpuasa yang diperkirakan lebih pendek dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penjelasan ini muncul atas fenomena kalender Islam yang berbeda dengan kalender Masehi serta perubahan posisi matahari dan lama siang hari secara global dalam masa Ramadan 1447 Hijriah.

Perbedaan Kalender Hijriah dan Kalender Masehi

Kalender Islam atau kalender Hijriyah menggunakan sistem lunar yang berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Sebuah tahun Hijriyah umumnya terdiri dari 354 atau 355 hari, yakni sekitar 10–11 hari lebih pendek dibanding kalender Gregorian yang digunakan dalam kehidupan sipil sehari-hari. Akibatnya, Ramadan bergeser sekitar 10 hari lebih awal setiap tahunnya dalam kalender Masehi.

Pada tahun 2026, Ramadan diperkirakan dimulai pada pertengahan Februari dan berlangsung hingga pertengahan Maret berdasarkan kalender astronomi dan penetapan awal bulan. Karena bulan suci ini berada di akhir musim dingin dan awal musim semi di belahan bumi utara, waktu siang relatif lebih pendek daripada Ramadan pada saat berada di musim panas.

Perubahan panjang siang dan malam di berbagai belahan dunia ini menjadi faktor utama di balik estimasi durasi puasa yang cenderung lebih pendek pada tahun 2026. Walaupun pergeseran ini signifikan bagi banyak umat Muslim, hal ini sebenarnya adalah bagian dari siklus tahunan kalender Hijriyah yang selalu mengalami perubahan relatif terhadap kalender Masehi.

Bagaimana Durasi Puasa Berbeda di Setiap Wilayah

Durasi puasa setiap harinya ditentukan oleh lamanya waktu antara fajar hingga matahari terbenam. Karena itu, jam puasa di setiap negara atau wilayah bisa sangat berbeda tergantung pada letak geografis dan musim saat itu berlangsung. Misalnya, wilayah di belahan bumi utara yang dekat dengan kutub utara dapat mengalami durasi siang yang lebih panjang pada musim panas, sedangkan wilayah yang berdekatan dengan ekuator atau di belahan bumi selatan mungkin mengalami durasi siang yang lebih pendek.

Pada Ramadan 2026, sebagian besar negara di belahan bumi utara akan mengalami durasi berpuasa yang relatif singkat, karena Ramadan berada pada periode akhir musim dingin dan awal musim semi. Lamanya puasa bisa berkisar antara 12 hingga 15 jam, tergantung pada posisi lintang daerah. Di belahan selatan yang masih mengalami musim panas atau lebih dekat dengan ekuator, puasa bisa berlangsung lebih lama.

Secara umum, fenomena perbedaan durasi puasa ini bukan hal baru, tetapi merupakan bagian dari dinamika tahunan ibadah Ramadan yang terkait dengan pergeseran posisi matahari terhadap bumi seiring bergantinya musim dan pengaruh kalender lunar.

Penetapan Awal Ramadan dan Perbedaan Keputusan

Penetapan awal Ramadan 1447 H pada kalender Hijriyah tahun 2026 juga menjadi pembahasan penting menjelang pelaksanaan puasa. Di Indonesia, awal Ramadan ditentukan melalui Sidang Isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Keputusan resmi dari sidang menentukan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026 berdasarkan hasil pengamatan hilal dan hisab hilal yang dilakukan dan diumumkan oleh Kemenag.

Namun, tidak semua pihak mengambil keputusan yang sama. Organisasi Islam seperti Muhammadiyah memilih menggunakan metode hisab berbeda dan menetapkan awal Ramadan pada 18 Februari 2026. Perbedaan ini kemudian dijelaskan oleh pakar ilmu falak bahwa perbedaan metodologi dalam menghitung perilaku astronomi adalah hal yang wajar dan merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam tradisi Islam.

Debat mengenai metode penetapan awal puasa bukan merupakan fenomena baru, tetapi sering kali muncul setiap tahun ketika terjadi perbedaan antara hasil hisab dan hasil observasi hilal secara langsung. Meskipun demikian, masyarakat diajak untuk saling menghormati perbedaan keputusan tersebut.

Apa Artinya Bagi Umat Muslim?

Perkiraan durasi puasa yang lebih pendek pada 2026 tidak berarti larangan atau kesalahan dalam pelaksanaan puasa, melainkan hanyalah refleksi dari perbedaan panjang siang di berbagai belahan dunia akibat posisi relatif bumi terhadap matahari dan sistem kalender lunar.

Umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari waktu fajar hingga matahari terbenam, tanpa makan, minum atau tindakan tertentu yang membatalkan puasa. Lama waktu antara fajar dan matahari terbenam berubah sepanjang tahun dan bergantung pada lokasi geografis masing-masing.

Sebagai bagian dari ibadah yang wajib dilakukan selama Ramadan, durasi berpuasa ini menjadi pengalaman spiritual dan disiplin bagi umat Muslim di seluruh dunia, yang memaknai tiap tahapan dalam Ramadan tidak hanya sebagai bentuk ritus ritual semata, tetapi juga kesempatan untuk refleksi diri, pembelajaran, dan penguatan spiritual.

Dengan demikian, meskipun puasa Ramadan 2026 diperkirakan berlangsung lebih pendek di banyak wilayah dibanding Ramadan di musim panas sebelumnya, ibadah puasa tetap dijalankan sesuai ketentuan syariat Islam dan menjadi bagian dari pengalaman tahunan umat Muslim untuk memperkuat keimanan dan solidaritas sosial.

Terkini